Sinar portal perlahan menghilang setelah Lynx dan Leena melangkah memasuki kota Hisperis. Mereka sama-sama terdiam memikirkan langkah selanjutnya, cara untuk menemukan Lala.

Meski keinginan kembali ke peradaban modern telah lama mereka simpan di dalam hati, namun kini setelah berada di kota Hisperis, segala keinginan yang awalnya mereka rindukan terasa hambar. Menonton film, menaiki kendaraan, mencicipi makanan kota, dan berbagai hal yang awalnya mereka rindukan kini tidak lagi menarik di mata mereka. Fokus mereka hanya mencari Lala, dan kembali mencari suku Surya, lalu pulang kerumah.

Derap langkah Lynx dan Leena bergema di trotoar sempit kota Hisperis. Cahaya lampu neon memantul di genangan air, menciptakan bayangan yang bergoyang saat mereka melewati lorong-lorong yang berkelok.

Tiba-tiba, dari sebuah gang gelap yang sempit dan bau minyak, terdengar suara teriakan.

"Tolong! Tolong! Hentikan, kami hanya reporter kecil. Kalian harus melepaskan kami!"

Lynx berhenti sejenak dan menoleh pada Leena. "Kau dengar?"

Leena mengangguk, lalu mendecak pelan. "Dunia manapun, selalu ada sampah seperti ini."

Mereka menyelinap ke gang tersebut, dan terlihat belasan pria bertampang preman tengah mengepung sepasang pria dan wanita. Pria itu berlutut sambil menutupi tubuh pasangannya yang ketakutan, sementara para perampok berteriak-teriak.

"Serahkan kamera dan barang berharga kalian! Dan juga yang wanita, ikut denganku! Cepat sebelum aku kehilangan kesabaran!"

Leena melangkah maju dengan wajah masam. Tanpa banyak basa-basi, dia menjentikkan jemarinya. "Kalian ini menjijikkan."

Angin tiba-tiba berdesir keras. Dalam satu gerakan gesit, Leena melompat dan mendarat di tengah kerumunan. Satu per satu, anak buah para penjahat beterbangan ke tembok dan tong sampah dengan suara benturan keras dan jeritan kesakitan.

"Apa-apaan ini?!" teriak pimpinan mereka, seorang pria tinggi besar berbadan kekar, mengenakan rompi kulit dan kacamata hitam. Tapi matanya langsung membelalak saat melihat wajah Leena yang dingin dan indah di bawah cahaya lampu temaram.

"wah, siapa ini? Peri jatuh dari langit?" katanya dengan suara menggoda. Anak buahnya yang tersisa ikut tertawa.

"Kau sendirian, manis? Mungkin kita bisa… berbagi waktu sedikit. Aku jago membawa wanita ke puncak kenikmatan, kau tahu?"

Leena menatap mereka yang tertawa dengan sorot dingin. "Kalian sudah bosan hidup rupanya."

Dalam sekejap, tubuh Leena menghilang. Sebelum para preman sempat bereaksi, tamparan keras mendarat satu demi satu di pipi mereka, membuat kepala mereka menoleh seperti boneka rusak. Semua terhuyung.

Namun saat Leena mencoba menampar sang pemimpin, tangannya malah memantul seperti menampar balon.

BLOOP!

"Hehehe! Sakit kah, cantik?" Pimpinan itu tertawa, tubuhnya menggeliat seperti terbuat dari karet. Pipi yang tadi ditampar langsung melar kembali ke bentuk semula.

"Apa...?" Leena menyipitkan mata.

"Aku si Elastok! Metahuman kelas-C yang bisa menahan ledakan granat dengan tubuhku!" teriaknya bangga. "Dan kau, cantik, akan merasakan betapa elastisnya tubuhku bermain-main menjelajahi tubuhmu!"

Dengan gaya menjijikkan, dia memanjangkan tangannya ke arah pipi Leena. Tapi gadis itu berkelebat ke samping. Tangan karet itu melambai-lambai di udara lalu membentur dinding.

"Cih, cepat juga ya. Tapi aku bisa terus coba!" seru Elastok sambil tertawa mesum.

Leena memutar matanya malas, lalu menghindari lagi serangan tangan karet itu, yang kini seperti ular melingkar, mencoba menyentuh pipinya dari berbagai arah. "Kau menjijikkan. Aku akan memberimu pelajaran yang tidak akan kamu lupakan seumur hidupmu."

Mendengar kata-kata Leena, Elastok malah semakin senang. "Ayo dong, senyum dikit. Aku belum menyerah!"

Leena mengangkat tangannya pelan, menghela napas panjang. "Baiklah. Kalau begitu, jangan salahkan aku."

Dalam sekejap, gelombang qi meledak dari tubuhnya. Gang sempit itu terguncang, dan dinding-dinding bergetar. Angin qi meledak seperti petir, menghantam Elastok dari berbagai arah. Tubuh karetnya sempat bergoyang-goyang seperti jeli, tapi kemudian terpental ke udara, menghantam sisi kontainer logam dengan suara BONG!

"Aaaarghh!!" dia terhempas, tubuhnya melekat di dinding seperti permen karet.

Leena berjalan mendekat pelan, pedangnya diangkat lalu di ayunkan ke arah Elastok. Energi pedang yang sangat tajam melewati Elastok dan membuat torehan panjang dan dalam di dinding, hanya beberapa inchi dari tubuh Elastok. Tubuh Elastok gemetar, wajahnya memucat dan takut melihat ketajaman dan keganasan wanita di hadapannya.

Leena lalu berkata dengan suara tajam, "Kali ini aku melepaskanmu. Jika kau atau teman-temanmu muncul lagi di hadapanku, aku pastikan tubuhmu tidak akan bisa melar lagi selamanya."

Tubuh Elastok berkedut, tapi tidak menjawab. Teman-temannya sudah kabur lebih dulu, membawa bekas tamparan di wajah dan trauma di hati.

Lynx muncul dari balik gang, mengangkat alis. "Sudah selesai?"

Leena menarik napas dan mengangguk. "Selesai. Tapi bagaimana bisa manusia tadi memiliki badan seperti karet, sangat menjijikkan tangannya memanjang berusaha menyentuh wajahku."

"Lala pernah mengatakan tentang metahuman. Aku yakin, dia salah satu dari mereka."

Mereka berdua berjalan kembali meninggalkan Elastok yang masih menempel di tembok berusaha untuk keluar.

Lynx dan Leena melangkah mendekati pasangan yang nyaris menjadi korban. Keduanya masih terengah, wajah mereka pucat, tapi sorot mata menunjukkan kelegaan yang dalam. Wanita itu, dengan rambut kusut dan pakaian reporter yang agak berantakan, maju setengah langkah sambil menunduk penuh rasa terima kasih.

"Terima kasih banyak… Kami benar-benar hampir…" ucapnya dengan suara gemetar. "Aku… aku tak tahu apa yang akan terjadi kalau kalian tidak datang."

Leena mengangguk pelan, senyum tipis tergambar meski wajahnya masih menyimpan ketegangan. "Kalian tidak terluka?"

Lynx ikut bersuara, nada suaranya sedikit keras. "Kenapa kalian berkeliaran malam-malam di tempat seperti ini? Terutama kau, sebagai wanita. Ini bukan wilayah yang aman."

Pria di samping wanita itu, juga mengenakan jaket bertuliskan logo media, mengangkat tangan seolah meminta maaf. "Kami baik-baik saja, sungguh. Terima kasih sudah menyelamatkan kami. Kami hanya… kami ke sini untuk meliput kejadian aneh yang katanya terjadi di pusat kota."

"Keanehan macam apa?" tanya Lynx dengan dahi berkerut.

"Seseorang bilang… air laut dalam jumlah besar tiba-tiba jatuh dari langit dan bukan hanya air laut tetapi juga berbagai jenis hewan laut ikut muncul." Ia menatap mereka serius. "Kami berpikir mungkin ada metahuman baru yang memiliki kemampuan mengeluarkan air laut sehingga kami ingin menyelidikinya."

Leena melirik Lynx dengan tatapan tajam seolah menyalahkan, "Itu ulahmu."

Wanita reporter itu ikut menatap mereka berdua dengan rasa ingin tahu. Sorot matanya menelisik pakaian asing yang dikenakan Lynx dan Leena, tampak terlalu asing untuk kota seperti Hisperis.

"Kami baru saja menyelesaikan peliputan berita lain saat kabar ini masuk. Jadi kami buru-buru datang ke sini untuk mencari petunjuk," jelasnya. "Tapi belum sempat kami menyusuri gang, metahuman dan komplotannya itu langsung menyergap. Kami tak menyangka akan secepat itu."

"Apakah ada banyak metahuman di sini?" tanya Leena.

Wanita itu mengangguk. "Sangat banyak, karena itu biasanya kami membawa alat perlindungan, namun karena buru-buru, kami meninggalkannya."

"Banyak ya?" Leena berbisik pelan. Sepertinya kata metahuman memicu ingatan yang samar. "Lala pernah menyebut tentang sesuatu seperti itu, tentang orang yang memiliki kekuatan aneh, mirip dengan Lynx. Tapi dia tidak terlalu ingat jelas. Kael juga menceritakan kemampuan Kanaya tetapi tidak menjelaskan mengenai metahuman."

Wanita itu lalu bertanya,"Lalu siapa kalian? Rasanya kami belum pernah melihat kalian."

"Kami baru tiba di kota ini dan sedang mencari seseorang." Jawab Lynx.

Lynx menatap kedua wartawan itu dengan ekspresi serius, seakan menyelidiki setiap kata yang keluar dari mulut mereka. "Pernahkah kalian mendengar nama Kanaya?" tanyanya tiba-tiba, suaranya rendah namun penuh tekanan. "Dia seorang pembunuh bayaran, sebagai wartawan tentu kalian memiliki informasi tentang para pembunuh bayaran seperti dia."

Kedua wartawan itu saling pandang, tatapan mereka penuh curiga. Wanita itu sedikit mengerutkan kening, sementara pria itu mencoba menyembunyikan ketegangan di wajahnya. Mereka berdua jelas tidak merasa nyaman dengan pertanyaan itu, apalagi setelah melihat Lynx dan Leena yang jelas-jelas merupakan orang asing dengan penampilan yang mencolok.

"Kanaya?" tanya pria itu dengan nada hati-hati. "Kami… kami tidak tahu siapa itu. Pembunuh bayaran seperti itu biasanya identitasnya dirahasiakan dengan ketat. Terutama jika berkaitan dengan pemerintah, mereka sangat berhati-hati."

Lynx menatap ekspresi kedua orang di hadapannya. Lynx merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh mereka.

